Selasa, 03 Maret 2015

Definisi AKUNTANSI BIAYA dan Cara Penggolongan Biaya

REVIEW


Akuntansi Biaya


Cara Penggolongan Biaya

Dalam akuntansi biaya, biaya digolongkan dengan berbagai macam cara. Umumnya penggolongan biaya ini ditentukan atas dasar tujuan yang hendak dicapai dengan penggolongan tsb, karena dalam akuntansi biaya dikenal konsep " different costs for different purpose" (Mulyadi, 1993). Menurut (Mulyadi, 1993) dan Harnanto & Zulkifli (2003), biaya dapat digolongkan menurut:
  1. Obyek pengeluaran.
  2. Fungsi pokok dalam perusahaan.
  3. Hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.
  4. Perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.
  5. Jangka waktu manfaatnya.


A. Penggolongan biaya Menurut  Obyek Pengeluaran

Dalam cara penggolongan ini, nama obyek pengeluaran merupakan dasar penggolongan penggolongan biaya. Misalnya nama obyek pengeluaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut "biaya bahan bakar". Contoh penggolongan biaya atas dasar obyek penegeluaran dalam perusahaan kertas adalah sebagai berikut: biaya merang, biaya jerami, biaya gaji dan upah, biaya soda, biaya depresiasi mesin, biaya asuransi, biaya bunga, dan biaya zatwarna (Mulyadi, 1993).


B. Penggolongan Biaya menurut Fungsi Produksi Pokok dalam Perusahaan

Menurut Mulyadi (1993), dalam perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi dan umum. Oleh karena itu dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok:

1. Biaya Produksi, merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Contohnya adalah biaya depresiasi mesin dan ekuipmen, biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya gaji karyawan yang bekerja dalam bagian-bagian, baik yang langsung maupun yang tidak langsung berhubungan dengan proses produksi. Menurut obyek pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi ini dibagi menjadi: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik (factory overhead cost). Baiaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung disebut pula dengan biaya utama (prime cost), sedangkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik disebut dengan biaya konversi (convertion cost), yang merupakan biaya untuk mengkonversi (mengubah) bahan baku menjadi produk jadi. 
  • Biaya bahan baku, adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan yang menjadi bagian pokok dari produksi selesai. Contoh, perusahaan mebel membuat meja dan kursi bahan bakunya adalah kayu, maka pengeluaran uang untuk membeli kayu tsb akan menjadi biaya bahan baku.
  • Biaya tenaga kerja langsung, merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja yang langsung menangani proses produksi. Misalnya pada perusahaan mebel biaya tukang kayu.
  • Biaya overhead pabrik, adalah biaya yang dikeluarkan bagian produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, seperti biaya bahan penolong, gaji mandor, biaya tenaga kerja tidak langsung lainnya, perlengkapan (supplies) pabrik, penyusutan, listrik dan air, biaya pemeliharaan dan suku cadang, dll biaya di pabrik (Sutrisno, 2000).
2. Biaya Pemasaran, merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk. Contohnya adalah biaya iklan, biaya promosi, biaya angkutan dari gedung perusahaan ke gudang pembeli, gaji karyawan bagian-bagian yang melaksanakan kegiatan pemasaran, dan biaya contoh (sample). Menurut Hansen dan Mowen (2001), biaya pemsaran adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk memasarkan produk atau jasa, meliputi biaya gaji dan komisi tenaga penjual, biaya iklan, biaya pergudangan dan biaya pelayanan pelanggan. menurut Henry Simamora (2002), biaya pemasaran atau penjualan (marketing cost) meliputi semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapat pesanan pelanggan dan menyerahkan produk atau jasa ke tangan pelanggan. 
Mulyadi (2005) menggolongkan biaya pemasaran menjadi dua golongan, yaitu:
  • Order getting cost (biaya untuk mendapatkan pesanan), yaitu semua biaya yang dikeluarkan dalam usaha untuk memperoleh pesanan. Contohnya: biaya gaji dan wiraniaga, komisi penjualan, advertensi, dan promosi.
  • Order filling cost (biaya untuk memenuhi pesanan), yaitu semua biaya yang dikeluarkan dalam rangka mengusahakan agar produk sampai ke tangan pembeli/konsumen. Contohnya: biaya pergudangan, biaya pengangkutan, dan biaya penagihan.
3. Biaya Administrasi dan Umum, merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk. Contoh biaya ini adalah biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi, personalia dan bagian hubungan masyarakat, biaya pemeriksaan akuntan, biaya fotocopy. Jumlah biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum sering disebut biaya komersial (commercial expenses).


C. Penggolongan Biaya menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang Dibiayai

Mulyadi (1993) menyatakan bahwa, sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen. Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi dua golongan:
1. Biaya langsung (direct cost), adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai tsb tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi. Dengan demikian biaya langsung akan mudah diidentifikasikan dengan sesuatu yang dibiayai. 
Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya langsung departemen (direct department cost) adalah semua biaya yang terjadi di dalam departemen tertentu. Contohnya adalah biaya tenaga yang bekerja dalam Departemen pemeliharaan merupakan biaya langsung departemen bagi Departemen Pememliharaan dan biaya depresiasi mesin yang dipakai dalam departemen tsb merupakan biaya langsung bagi departemen tsb.
2. Biaya tidak langsung (indirect cost), adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik. Biaya ini tidak mudah dididentifikasikan dengan produk tertentu. Gaji mandor yang mengawasi pembuatan produk A, B, dan C merupakan biaya tidak langsung bagi baik produk A, B, maupun C, karena gaji mandor tsb terjadi bukan hanya karena perusahaan memproduksi salah satu produk tsb, melainkan karena memproduksi ketiga jenis produk tsb. Jika perusahaan hanya menghasilkan satu macam produk (misalnya perusahaan semen, pupuk urea, gula) maka semua biaya merupakan biaya langsung dalam hubungannya dengan produk. 
Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk sering disebut dengan istilah biaya overhead pabrik. Dalam hubungannya dengan departemen, biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi di suatu departemen, tetapi manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Contohnya adalah biaya yang terjadi di Departemen Pembangkit Tenaga Listrik. Biaya ini dinikmati oleh departemen-departemen lain dalam perusahaan, baik untuk penerangan maupun untuk menggerakkan mesim dan ekuipmen yang mengkonsumsi listrik. Bagi departemen pemakai listrik, biaya listrik yang diterima dari alokasi biaya departemen pembangkit tenaga listrik merupakan biaya tidak langsung departemen.


D. Penggolongan Biaya Menurut Perilakunya dalam Hubungannya dengan perubahan Volume Kegiatan

Menurut Mulyadi (1993), dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya dapat digolongkan menjadi:
1. Biaya variabel, adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung. 
2. Biaya semivariable, adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semivariable mengandung unsur biaya tetap dan biaya variabel. Contoh biaya ini adalah gaji salesman yang dibayar secara tetap dan prosentase tertentu dari hasil penjualan.
3. Biaya semifixed, adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu. Contoh biaya penelitian, biaya pemeriksaan dan pengawasan produksi.
4. Biaya tetap, adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu. Contoh biaya tetap adalah gaji direktur produksi, biaya penyusutan, gaji direksi, walupun perusahaan tidak berproduksi, maka biaya ini akan tetap ditanggung oleh perusahaan. Ciri biaya tetap adalah biaya yang secara total tetap tapi per unitnya berubah-ubah.


E. Penggolongan Biaya atas Dasar Jangka Waktu Manfaatnya

Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi dua: pengeluaran modal dan pengeluran pendapatan.
  • Pengeluaran modal (capital expenditure), adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya periode akuntansi adalah satu tahun kalender). Pengeluaran modal ini pada saat terjadinya dibebankan sebagai harga pokok aktiva, dan dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan cara didepresiasi, diamortisasi, dan dideplesi. Contoh pengeluaran modal adalah pengeluaran untuk pembelian aktiva tetap, untuk reparasi besar terhadap aktiva tetap, untuk promosi besar-besaran, dan pengeluaran untuk riset dan pengembangan suatu produk. karen apengeluaran untuk keperluan tsb biasanya melibatkan jumlah yang besar dan memilikimasa manfaat lebih dari satu tahun, maka pada saat pengeluaran tsb dilakukan, pengorbanan tsb diperlakukan sebagai pengeluaran modal dan dicatat sebagai harga pokok aktiva (misalnya sebgai harga pokok aktiva tetap atau beban yang ditangguhkan). Periode akuntansi yang menikmati manfaat pengeluaran modal tsb dibebani sebagian pengeluaran modal tsb berupa biaya depresiasi, biaya amortisasi, atau biaya deplesi.
  • Pengeluaran pendapatan (revenue expenditure), adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluran tsb. Pada saat terjadinya, pengeluaran pendapatan ini dibebankan sebagai biaya dan dipertemukan dengan pendapatan yang diperoleh dari pengeluaran biaya tsb. Contoh pengeluaran pendapatan antara lain biaya iklan, biaya telex, dan biaya tenaga kerja (mulyadi, 1993)


F. Hubungannya dengan Perencanaan, Pengendalian, dan Pembuatan Keputusan.

Harnanto dan Zulkifli (2003) menyatakan, biaya ini dikelompokkan ke dalam golongan, yaitu:
1. Biaya standar dan Biaya dianggarkan
  • Biaya standar, merupakan biaya yang ditentukan di muka (predetermine cost) yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produk.
  • Biaya yang dianggarkan, merupakan perkiraan total pada tingkat produksi yang direncanakan.
2. Biaya terkendali dan biaya tidak terkendali
  • Biaya terkendali (controllable cost), merupakan biaya yang dapat dipengaruhi secara signifikan oleh manajer tertentu.
  • Biaya tidak terkendali (uncontrollable cost), merupakan biaya yang tidak secara langsung dikelola oleh otoritas manajer tertentu.
3. Biaya tetap commited dan discretionary
  • Biaya tetap commited, merupakan biaya tetap yang timbul dan jumlah maupun pengeluarannya dipengaruhi oleh pihak ketiga dan tidak bisa dikendalikan oleh manajemen.
  • Biaya tetap discretionary, merupakan biaya tetap yang jumlahnya dipengaruhi oleh keputusan manajemen.
4. Biaya variabel teknis dan biaya kebijakan
  • Biaya variabel teknis (engineered variable cost), adalah biaya variabel yang sudah diprogramkan atau distandarkan seperti biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
  • Biaya variabel kebijakan (discretionary variable cost) adalah biayavariabel yang tingkat variabilitasnya dipengaruhi oleh kebijakan manajemen.
5. Biaya relevan dan biaya tidak relevan
  • Biaya relevan (relevant cost), dalam pembuatan keputusan merupakan biaya yang secara langsung dipengaruhi oleh pemilihan alternatif tindakan oleh manajemen.
  • Biaya tidak relevan (irrelevant cost), merupakan biaya yang tidak dipengaruhi oleh keputusan manajemen.
6. Biaya terhindarkan dan Biaya tidak terhindarkan
  • Biaya terhindarkan (avoidable cost) adalah biaya yang dapat dihindari dengan diambilnya suatu alternatif keputusan.
  • Biaya tidak terhindarkan (unavoidable cost) adalah biaya yang tidak dapat dihindari pengeluarannya.
7. Biaya diferensial dan biaya marjinal
  • Biaya diferensial (differential cost), adalah tambahan total biaya akibat adanya tambahan penjualan sejumlah unit tertentu.
  • Biaya marjinal (marginal cost), adalah biaya dimana produksi harus sama dengan penghasilan marjinal jika ingin memaksimalkan laba.
8. Biaya kesempatan (opportunity cost), merupakan pendapatan atau penghematan biaya yang dikorbankan sebagai akibat dipilhnya alternatif tertentu dari beberapa alternatif yang ada.



Definisi, Bentuk Penyajian dan Elemen-elemen LAPORAN KEUANGAN,

Berbagi Informasi

Laporan Keuangan

Arti Laporan Keuangan

Laporan keuangan menurut PSAK No.1 (revisi 2009) adalah suatu penyajian yerstruktur dari posisi keuangan dan kinerja suatu entitas. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
Munawir (2000) mengartikan laporan keuangan sebagai hasil dari psoses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan dan aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tsb. Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap posisi keuangan maupun perkembangan suatu usaha adalah para pemilik perusahaan, manajer yang bersangkutan, para kreditur, bankers, investor dan pemerintah dimana perusahaan tsb berdomisili.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan perusahaan pada sutu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggamabrkan kinerja perusahaan tsb.


Tujuan Laporan Keuangan

APB (Accounting Principle Board) No. 4 mengklasifikasikan tujuan laporan keuangan menjadi tujuan khusus, tujuan umum, dan tujuan kualitatif. Tujuan-tujuan tsb dapat dirimglas sebagai berikut:
a.Tujuan khusus, laporan keuangan bertujuan untuk menyajikan secara wajar dan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, posisi keuangan, hasil operasi, dan perubahan-perubahan lainnya dalam laporan keuangan.
b.Tujuan umum, laporan keuangan dibuat dengan tujuan:
  1. Untuk memberikan informasi yang dapat diandalkan mengenai sumber daya ekonomi dan kewajiban dari perusahaan bisnis.
  2. Untuk memberikan informasi yang dapat diandalkan mengenai perubahan dalam sumber daya bersih dari aktivitas perusahaan bisnis yang diarahkan untuk memperoleh laba.
  3. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk mengestimasi potensi penghasilan bagi perusahaan.
  4. Untuk mengungkapkan informasi lainyang relevan terhadap kebutuhan pengguna laporan keuangan.
c. Tujuan kualitatif, laporan keuangan bertujuan:
  1. Relevansi, yang artinya pemilihan informasi yang memiliki kemungkinan paling besar untuk memberikan bantuan kepada pengguna laporan keuangan dalam keputusan ekonomi mereka.
  2. Dapat dimengerti, yang artinya tidak hanya informasi tsb harus jelas tetapi para pengguna juga harus dapat memahaminya.
  3. Dapat diverifikasi, yang artinya hasil akuntansi dapat didukung oleh pengukuran-pengukuran yang independen dengan menggunakan metode pengukuran yang sama.
  4. Netralitas, yang artinya informasi akuntansi ditujukan kepada kebutuhan umum dari pengguna bukannya kebeutuhan-kebutuhan tertentu dari pengguna yang spesifik.
  5. Ketepatan waktu, yang artinya komunikasi informasi secara lebih awal untuk menghindari adanya kelambatanatau penundaan dalam pengambilan keputusan ekonomi.
  6. Komparabilitas (daya banding), yang secara tidak langsung berarti perbedaan-perbedaan yang terjadi seharusnya bukan diakibatkan oleh perbedaan perlakuan akuntansi keuangan yang diterapkan.
  7. Kelengkapan, yang artinya adalah telah dilaporkan seluruh informasi yang secara wajar memenuhi persyaratan dari tujuan kualitatif yang lain.

Pengguna Laporan Keuangan

Adapun pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan beserta tujuannya sebagaimana dikemukakan oleh Harahap (1999) meliputi:
  1. Pemilik perusahaan, bagi pemilik perusahaan laporan keuangan dimaksudkan untuk: a) Menilai prestasi atau hasil yang diperoleh manajemen, b)Mengetahui hasil dividen yang akan diterima, c) Menilai posisi keuangan perusahaan dan pertumbuhannya, d) Mengetahui nilai saham dan laba per lembar saham, e) Sebagai dasar untuk memprediksi kondisi perusahaan di masa datang, dan f) Sebagai dasar untuk menambah atau mengurangi investasi.
  2. Manajemen perusahaan, laporan keuangan digunakan manajemen untuk: a) alat untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan kepada pemilik, b) mengukur tingkat biaya dari setiap kegiatan operasi perusahaan, divisi, bagian atau segmen tertentu, c) mengukur tingkat efisiensi dan tingkat keuntungan perusahaan, divisi, atau bagian, d) untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan perlu atau tidaknya diambil kebijaksanaan baru, dan e) memenuhi ketentuan dalam UU, peraturan, anggaran dasar, pasar modal, dan lembaga keuangan lainnya.
  3. Investor, bagi investor laporan keuangan dimaksudkan untuk: a) menilai kondisi keuangan dan hasil usaha perusahaan, b) menilai kemungkinan menanamkan dana dalam perusahaan, c) menilai kemungkinan menarik investasi (divestasi) dari perusahaan, dan d) menjadi dasar memprediksi kondisi perusahaan di masa datang.
  4. Kreditur atau perbankan, bagi kreditur, banker atau supplier laporan keuangan digunakan untuk: a) menilai kondisi keuangan dan hasil usaha perusahaan baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang, b) menilai kualitas jaminan kredit/investasi untuk menopang kredit yang akan diberikan, c) melihat dan memprediksi prospek keuntungan yang mungkin diperoleh dari perusahaan atau menilai rate of return perusahaan, d) menilai kemampuan likuiditas, solvabilitas, rentabilitas perusahaan sebagai dasar dalam pertimbangan keputusan kredit, dan e) menilai sejauh mana perusahaan mengikuti perjanjian kredit yang sudah disepakati.
  5. Pemerintah atau regulator, bagi pemerintah atau regulator, laporan keuangan dimaksudkan untuk: a) menghitung dan menetapkan jumlah pajak yang harus dibayar, b) sebagai dasar dalam penetapan kebijakan baru, c) menilai kepatuhan perusahaan memerlukan bantuan atau tindakan lain, d) menilai kepatuhan perusahaan terhadap aturan yang ditetapkan, dan e) bagi lembaga pememrintah lainnya bisa menjadi bahan penyusunan data dan statistik.


Elemen-elemen Dasar Laporan Keuangan

Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) No.3, Elements of Financial Statements of Business Enterprises, mendefinisikan elemen-elemen yang saling berkaitan yang secara langsung berhubungan dengan pengukuran kinerja dan status dari perusahaan antara lain:
  1. Aktiva, adalah kemungkinan manfaat ekonomi di masa depan yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai akibat dari transaksi atau peristiwa masa lalu.
  2. Kewajiban, adalah kemungkinan pengorbanan manfaat ekonomi di masa depan yang timbul dari hutang saat ini suatu entitas untuk mengalihkan aktiva atau memberikan jasa kepada entitas lain di masa depan sebagai akibat dari transaksi atau peristiwa masa lalu.
  3. Ekuitas, adalah kepentingan residual dari aktiva suatu entitas yang tersisa setelah mengurangi dengan kewajibannya. Dalam perusahaan bisnis, .ekuitas ini adalah saham kepemilikan,
  4. Investasi oleh pemilik, adalah peningkatan aktiva bersih dari perusahaan yang diakibatkan dari pengalihan sesuatu yang bernilai kepada perusahaan dari entitas lain untuk mendapatkan atau meningkatkan kepemilikan (ekuitas) dari perusahaan.
  5. Distribusi kepada pemilik, adalah penurunan aktiva bersih dari perusahaan yang diakibatkan oleh pengalihan aktiva, pemberian jasa, atau timbulnya kewajiban oleh perusahaankepada pemilik. Distribusi kepada pemilik menurunkan kepemilikan (ekuitas) dalam perusahaan.
  6. laba komprehensif, adalah perubahan ekuitas (aktiva bersih) perusahaan selama periode tertentu yang diakibatkan dari transaksi dan peristiwa serta kejadian-kejadian lain dari sumber non pemilik. Laba komprehensif mencakup semua perubahan yang terjadi pada ekuitas selama satu periode kecuali perubahan yang ditimbulkan oleh investasi pemilik dan distribusi kepada pemilik.
  7. Pendapatan, adalah arus masuk atau peningkatan lain dari suatu aktiva sebuah entitas atau pelunasan kewajiban sebuah entitas (atau kombinasi dari keduanya) selama satu periode tertentu yang dihasilkan oleh penyampaian atau produksi barang, pemberian jasa, atau pelaksanaan aktivitas lain yang menjadi bagian dari operasi-operasi pusat atau utama entitas yang sedang berjalan.
  8. Beban, adalah arus keluar atau penggunaan lain dari aktiva sebuah entitas atautimbulnya kewajiban kewajiban sebuah entitas (atau kombinasi dari keduanya) selama satu periode tertentu yang dihasilkan oleh penyampaian atau produksi barang, pemberian jasa, atau pelaksanaan aktivitas lain yang menjadi bagian dari operasi-operasi pusat atau utama entitas yang sedang berjalan.
  9. Keuntungan, adalah peningkatan ekuitas (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi entitas yang insidental atau sampingan dan dari semua transaksi dan peristiwa serta kejadian lainnya yang mempengaruhi entitas selama periode tertentu kecuali yang timbul dari pendapatan atayentitas investasi pemilik.
  10. Kerugian, adalah penuruan ekuitas (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi entitas yang insidental atau sampingan dan dari semua transaksi dan peristiwa serta kejadian lainnya yang mempengaruhi entitas selama periode tertentu kecuali yang timbul dari beban atau distribusi kepada pemilik.
Definisi-definisi di atas memberikan metode penyaringan pertama yang signifikan dalam menentukan isi dari laporan keuangan, Definisi ini menguraikan karakteristik penting yang harus dipenuhi sebelum peristiwa dan kejadian dapat dianggap sebagai elemen dari laporan keuangan.

Jenis dan Bentuk Penyajian Laporan Keuangan

Dalam prakteknya, secara umum ada lima aporan keuangan yang bisa disusun, yaitu:
  1. Neraca (Balance sheet) adalah laporan keuangan yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Arti dari posisi keuangan dimaksud adalah posisi jumlah dan jenis aktiva (harta) dan pasiva (kewajiban dan ekuitas) suatu perusahaan. Neraca memiliki dua bentuk penyajian : a) bentuk rekening (account form) atau skontro, dalam bentuk ini aktiva ditempatkan di sebeblah kiri dan pasiva ditempatkan di sebelah kanan, b) bentuk laporan (report form) atau staffel, dalam bentuk ini aktiva ditempatkan di bagian atas sedangkan pasiva ditempatkan di bawah aktiva secara vertikal.
  2. Laporan laba rugi (Income statement) adalah laporan yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dalam laporan laba rugi ini tergambar jumlah pendapatan dan sumber-sumber pendapatan yang diperoleh, laporan laba rugi memiliki dua bentuk penyajian (Fraser dan Ormiston, 2004) yaitu: a) format satu tahap (single step format) mengumpulkan pendapatan-pendapatan dalam satu kelompok kemudian dipotong dengan beban untuk mencapai laba bersih, b) format fase berjenjang (multiple step format) yang menyajikan laba berjenjang (laba kotor, laba usaha, dan laba sebelum pajak) sebelum sampai ke laba bersih untuk periode berjalan.
  3. Laporan arus kas adalah laporan yang menunjukkan semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan, baik yang berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kas. laporan arus kas terdiri atas arus kas masuk dan arus kas keluar selama periode tertentu.
  4. laporan perubahan ekuitas adalah laporan yang berisi jumlah dan jenis modal yang dimiliki pada saat ini. kemudian laporan ini juga menjelaskan perubahan modal dan sebab-sebab terjadinya perubahan modal di suatu perusahaan.
  5. Catatan atas laporan keuangan, yaitu laporan yang memberikan informasi apabila adalah laporan keuangan yang memerlukan penjelasan tertentu.


DAFTAR PUSTAKA


Harahap, Sofyan Syafri.1999.Teori Akuntansi. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta


Senin, 02 Maret 2015

Pengertian AKUNTANSI dan Prinsip Dasar

MENGENAL AKUNTANSI



Apa itu Akuntansi???

Definisi Akuntansi


Begitu banyak definisi akuntansi yang dikeluarkan oleh badan-badan akuntansi dan berbagai sumber maupun literatur terdahulu, beberapa diantaranya adalah:

  1. Accounting Principle Board (APB) Statement No. 4 mendefinisikan akuntansi sebagai suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah membrikan informasi kuantitatif, umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan ekonomi yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi sebagai  dasar memilih diantara beberapa alternatif.
  2. American Institute of Certified Public Accountant (AICPA) mengartikan akuntansi sebagai seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasilnya.
  3. ASOBAT (A Statement of Basic Accounting Theory) mendefinisikan akuntansi sebagai proses mengidentifikasikan, mengukur, dan menyampaikan informasi ekonomi sebagai bahan informasi dalam hal mempertimbangkan berbagai alternatif dalam mengambil kesimpulan oleh para pemakainya.
  4. Harahap (1999) mengartikan akuntansi sebagai bahasa tau alat komunikasi bisnis yang dapat memberikan informasi tentang kondisi keuangan yang tertuang dalam jumlah kekayaan, hutang, dan modal suatu bisnis serta hasil usahanya pada suatu waktu atau periode tertentu.
Uraian pengertian akuntansi di atas menyimpulkan bahwa akuntansi adalah ilmu yang membahas suatu sistem yang menghasilkan informasi yang berhubungan dengan kejadian-kejadian yang mengubah posisi keuangan perusahaan. Informasi tsb dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan dan tanggung jawab di bidang keuangan


Prinsip Dasar Akuntansi


Prinsip dasar akuntansi adalah sifat-sifat yang mendasari akuntansi dan seluruh output-nya dalam pengembangan teknik atau prosedur akuntansi yang dipakai dalam menyusun laporan keuangan dengan asumsi dasar:
  • Dasar akrual. artinya dalam menyusun laporan keuangan pengakuan transaksi didasarkan pada kejadian atas peristiwa bukan didasarkan pada kas.
  • Kelangsungan usaha, artinya laporan keuangan didasarkan bahwa entity yang dimaksud akan terus melanjutkan usahanya dalam asumsi dasarnya tidak ada maksud untuk melikuidasi.
Prinsip dasar akuntansi menurut APB (Accounting Principle Board) No.4 yaitu:
  1. Prinsip Biaya Historis, menurut prinsip ini cost principle atau disebut acquisition cost atau historical cost adalah dasar penilaian yang tepat untuk mencatat perolehan barang, jasa, biaya , harga pokok, dan equity. Dengan perkataan lain, setiap perkiraan dinilai berdasarkan harga pertukarannya pada tanggal perolehan.
  2. Prinsip Pendapatan, prinsip ini menetapkan bagaimana pemahaman dan komponen-komponen dari pendapatan, pengukuran pendapatan dan mengenai saat pengakuan pendapatan. Pendapatan diakui menggunakan dasar akrual. Dasar akrual dalam mengakui pendapatan menggambarkan bahwa pendapatan sebaiknya dilaporkan selama proses produksi, akhir produksi, saat penjualan produk atau saat penagihan penjualan.
  3. Prinsip Matching (Pengaitan), prinsip ini mengatur agar pembebanan biaya harus dilakukan pada periode yang sama dengan periode pengakuan pendapatan. Pendapatan diakui pada periode menurut prinsip pengakuan pendapatan dan biaya akan dibebankan sesuai periode itu.
  4. Prinsip Objektivitas, penafsiran dari prinsip ini adalah objectivity merupakan realitas yang dikemukakan oleh pihak luar yang independen, objectivity dianggap sebagai suatu ukuran yang dapat diperiksa yang didasarkan pada bukti, ukuran obyektif dianggap sebagai hasil konsensus diantara kelompok tertentu yang mengamatinya atau mengukurnya, dan tingkat objectivity dapat diukur melalui penentuan batas tertentu.
  5. Prinsip Konsistensi, konsisten berarti kejadian ekonomis harus dilaporkan secara konsisten dari periode ke periode yang lain, prosedur dan prinsip akuntansi yang sama harus diterapkan dalam periode itu. Kegunaan dari prinsip ini adalah agar laporan keuangan dapat diperbandingkan. Disamping itu dengan penenrapan prinsip ini maka manipulasi laporan laba rugi dan neraca melalui penggunaan prinsip yang berbeda-beda akan dapat dihindarkan.
  6. Prinsip Pengungkapan Penuh, prinsip ini mengharuskan laporan keuangan dirancang dan disusun untuk menggambarkan secara akurat kejadian-kejadian ekonomi yang telah mempengaruhi perusahaan selama periode berjalan dan supaya mengandung informasi yang mencukupi guna membuatnya berguna dan tidak menyesatkan bagi investor kebanyakan. Prinsip pengungkapan penuh mengimplikasikan bahwa tidak ada informasi atau substansi atau kepentingan bagi kebanyakan investor yang akan dihilangkan atau disembunyikan.
  7. Prinsip Konservatisme, prinsip ini merupakan kendala dalam menyajikan laporan keuangan yang relevan dan dapat dipercaya. Prinsip ini diterapkan dalam menentukan pilihan diantara dua atau lebih teknik akuntansi. Konservatisme diterapkan sebagai cara untuk menghadapi ketidakpastian, berkaitan dengan kecenderungan sikap optimis manajer yang berlebihan. Konservatisme masih perlu diterapkan dalam beberapa situasi tertentu yang membutuhkan pertimbangan profesional akuntan.
  8. Prinsip Materialitas, seperti halnya konservatisme, prinsip ini adalah prinsip pengecualian atau modifikasi. Prinsip tsb menganggap bahwa transaksi dan kejadian yang memiliki dampak ekonomi yang tidak signifikan dapat ditangani secara cepat, tanpa memperdulikan apakah hal tsb sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum atau tidak.
  9. Prinsip Keseragaman dan Daya Banding, keseragaman (uniformity) berarti menggunakan prosedur-prosedur yang sama untuk perusahaan yang berbeda. prinsip keseragaman mengacu pada penggunaan prosedur yang sama oleh perusahaan-perusahaan yang berbeda. Tujuan yang ingin dicapai adalah menuju komparabilitas laporan keuangan dengan mengurangi keragaman yang diciptakan oleh penggunaan prosedur akuntansi yang berbeda oleh perusahaan-perusahaan yang berbeda.




AKUNTANSI BIAYA dan Klasifikasi Biaya dalam MANAJEMEN KEUANGAN

KLASIFIKASI BIAYA


AKUNTANSI BIAYA

Definisi Akuntansi Biaya

Menurut Mulyadi (1993) akuntansi biaya adalah proses pengidentifikasian, pencatatan, penghitungan, peringkasan, pengevaluasian dan pelaporan biaya pokok suatu produk baik barang maupun jasa dengan metode dan sistem tertentu sehingga pihak manajemen perusahaan dapat mengambil keputusan bisnis secara efektif dan efisien. 
Perbedaan akuntansi biaya, akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen menurut Mulyadi (1993) adalah:
  • Akuntansi biaya dipergunakan untuk menghitung biaya suatu produk yang mengandung unsur bahan baku, upah langsung, dan overhead pabrik serta memusatkan pada akumulasi biaya, penilaian persediaan dan perhitungan serta penetapan harga pokok suatu produk, hanya menekankan pada sisi biaya.
  • Akuntansi keuangan mengarah pada proses penyusunan laporan keuangan yang akan diberikan pada pemilik perusahaan.
  • Akuntansi manajemen menekankan penggunaan data akuntansi untuk pengambilan keputusan bisnis, menenkankan pada aspek pengendalian manajemen atas biaya.

Tujuan Akuntansi Biaya

Akuntansi biaya bertujuan untuk:
  1. Penentuan harga pokok produksi dengan mencatat, menggolongkan dan meringkas biaya pembuatan produk.
  2. Menyediakan informasi biaya untuk kepentingan manajemen, yaitu biaya sebagai ukuran efisiensi.
  3. Alat perencanaan, adanya perencanaan bisnis pasti berkaitan dengan penghasilan dan biaya. Dengan adanya perencanaan biaya akan memudahkan dalam pengendalian biaya.
  4. Pengendalian biaya, yaitu dengan cara membandingkan biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi satu satuan produk dengan biaya yang sesungguhnya terjadi.
  5. Memperkenalkan berbagai metode, ada berbagai macam metode dalam akuntansi biaya dapat dipilih sesuai dengan kepentingan yang diperlukan dengan hasil yang paling efektif dan efisien.
  6. Pengambilan keputusan khusus, akuntansi biaya berfungsi sebagai alat manajemen dalam mengawasi dan merekam transaksi biaya secara sistematis dan menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya.
  7. Menghitung laba perusahaan pada periode tertentu, untuk mengetahui laba maka diperlukan biaya yang dikeluarkan, biaya merupakan salah satu komponen dalam laba.
  8. Menghitung dan menganalisis terjadinya ketidakefektifan dan ketidakefisienan yaitu dengan mambahas batas maksimum yang harus diperhatikan dalam menentapkan biaya suatu produk, menganalisis dan menentukan solusi terbaik jika ada perbedaan antara batas maksimum tsb dengan yang sesungguhnya terjadi.

Fungsi Akuntansi Biaya

Akuntansi biaya mempunyai fungsi antara lain:
  1. Melakukan perhitungan dan pelaporan biaya (harga) pokok suatu produk.
  2. Memperinci biaya (harga) pokok produk pada segenap unsurnya.
  3. Memberikan informasi dasar untuk membuat perencanaan biaya dan beban.
  4. Memberikan data bagi proses penyusunan anggaran.
  5. Memberikan informasi biaya bagi manajemen guna dipakai di dalam pengendalian manajemen.

Konsep dan Klasifikasi Biaya

Biaya merupakan obyek yang dicatat, digolongkan, diringkas, dan disajikan oleh akuntansi biaya. berikut adalah beberapa definisi tentang biaya dari berbagai sumber:
  • Supriyono (2000) mengartikan biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan atau revenue yang akan dipakai sebagai pengurang penghasilan.
  • Henry Simamora (2002) mendefinisikan biaya adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat pada saat ini atau di masa mendatang bagi organisasi.
  • Mulyadi (2001) menjelaskan biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
  • Masiyah Kholmi (dalam Simamora, 2002) mengartikan biaya adalah pengorbanan sumber daya atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat di saat sekarang atau di masa yang akan datang bagi perusahaan.
  • Sutrisno (2000) menjelaskan biaya merupakan pengorbanan ekonomis yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan suatu barang atau jasa.
Biaya dalam arti luas diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Unsur pokok yang terkandung dalam arti biaya di atas yaitu:
  1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi.
  2. Diukur dalam satuan uang.
  3. Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi.
  4. Pengorbanan tsb untuk tujuan tertentu.
Dalam arti sempit biaya didefinisikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva. Biaya merupakan:
  • Penggunaan sumber-sumber ekonomi yang diukur dengan satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
  • Manfaat yang dikorbankan untuk memperoleh barang dan jasa.


Karakteristik Biaya

Biaya mempunyai karakteristik sebagai berikut:
  1. Uang, biaya aktiva harus dinyatakan dengan uang.
  2. Hak pemakaian, perusahaan akan mempunyai hak untuk menggunakan aktiva atau mendapatkan berbagai manfaat dari pengunaan aktiva tsb.
  3. Nilai, biaya suatu aktiva mencerminkan nilai ekonomis yang nantinya akan digunakan oleh perusahaan.
  4. Kondisi dan pembatasan, hak atas pemakaian bersifat tak bersyarat dan jika aktiva tsb milik perusahaan melalui pembelian maka hak perusahaan akan aktiva menjadi tidak dapat dibatasi.
  5. Unsur waktu, jika aktiva memberikan waktu pemakaian yang lama maka akan mencerminkan biaya yang berbeda.
  6. berwujud dan tak berwujud, karena kativa merupakan hak yang memiliki umur ekonomis.
  7. Nilai guna, keguanaan merupakan esensi dari biaya aktiva, tanpa nilai guna perusahaan tidak akan melakukan pengadaan (perolehan) aktiva.

Klasifikasi Biaya

Biaya diklasifikasikasikan menjadi:
I.Biaya berdasarkan Unsur produk
  • Bahan-bahan: bahan utama yang dipakai di dalam produksi yang kemudian diproses menjadi produk jadi melalui penambahan upah langsung dan FOH, dibedakan atas: a) bahan langsung yaitu semua bahan yang dapat dikenal sampai menjadi produk jadi, dapat dengan mudah ditelusuri dan merupakan bahan utama produk jadi, dan b) bahan tidak langsung yaitu semua bahan yang dimasukkan ke dalam proses produksi yang tidak dapat dengan mudah ditelusuri seperti bahan langsung.
  • Tenaga kerja/buruh: usaha fisik atau usaha mental yang dikeluarkan dalam produksi suatu produk. Tenaga kerja/buruh digolongkan menjadi: a) tenaga kerja langsung, adalah semua tenaga kerja yang secara langsung terlibat dengan produksi produk jadi dan dapat ditelusuri dengan mudah, merupakan biaya tenaga kerja langsung utama dalam menghasilkanla suatu produk, b) tenaga kerja tidak langsung, adalah semua tenaga kerja terlibat dalam proses produksi produk jadi, tetapi bukan tenaga kerja langsung.
  • Overhead pabrik (FOH); semua biaya yang terjadi di pabrik selain bahan langsung (BB) dan upah tenaga kerja langsung, merupakan kumpulan dari berbagai rekening  yang terjadi di dalam eksploitasi pabrik. 
II. Biaya hubungannya dengan Produksi
  • Biaya prima (prime cost) adalah biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung dimana biaya tsb berhubungan langsung dengan produksi.
  • Biaya konversi (convertion cost) adalah biaya yang berhubungan dengan pengolahan bahan baku menjadi produk jadi sehingga CC terdiri dari biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
III. Biaya hubungannya dengan Volume
  • Biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang secara total cenderung berubah-ubah secara proporsional sesuai dengan perubahan volume produksi sedangkan per unitnya cenderung konstan.
  • Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang dalam unit berubah-ubah dan dalam total selalu konstan, meskipun dalam batas interval tertentu.
  • Biaya semi variabel (semi variable cost) adalah biaya yang mengandung dua unsur biaya yaitu biaya tetap dan biaya variabel (FC & VC).
  • Biaya penutupan (shut down cost) adalah biaya tetap yang akan dibebankan ketika perusahaan tidak melakukan aktivitas produksi.
IV. Biaya pembebanannya terhadap Departemen
  • Departemen produksi merupakan departemen yang secara langsung memberi kontribusi untuk memproduksi suatu item dan memasukkan departemen dimana proses konversi atau proses produksi berlangsung.

  1. Departemen jasa merupakan departemen yang berhubungan dengan proses produksi secara tidak langsung dan berfungsi memberikan jasa (layanan) untuk departemen lain.
V. Biaya daerah Fungsional
  • Biaya manufaktur, yaitu biaya yang berhubungan dengan produksi suatu barang, merupakan jumlah dari biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.
  • Biaya pemasaran, yaitu biaya yang dibebankan di dalam penjualan suatu barang atau jasa dari keluarnya barang dari gudang sampai ke tangan pembeli.
  • Biaya administrasi, yaitu biaya yang dibebankan untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengoperasikan suatu perusahaan dan memasukkan gaji yang dibayar untuk manajemen serta staf pembukuan.

VI. Biaya yang periode pembebanannya terhadap pendapatan
  • Biaya produk, adalah biaya yang secara langsung dapat diidentifikasikan sampai ke produk jadi, meliputi biaya bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.
  • Biaya periodik, adalah biaya yang secara tidak langsung berhubungan dengan produk dan karenanya tidak dimasukkan dalam unsur persediaan. Biaya ini dibedakan atas: a) revenue expenditure: jika manfaat biaya hanya satu periode, b) capital expenditure: jika manfaat biaya lebih dari suatu perode.
VII. Biaya dalam hubungannya dengan pengawasan manajemen
  • Biaya rekayasa, merupakan taksiran unsur biaya yang dibebankan dengan jumlah yang paling tepat dan wajar.
  • Biaya kebijakan/discretionary cost, merupakan semua unsur biaya yang jumlahnya bervariasi sesuai dengan kebijakan manajer pusat pertanggungjawaban.
  • Biaya Komite/sunk cost, adalah biaya yang merupakan konsekuensi dari komitmen yang sebelumnya telah dibuat dan yang tidak dapat dihindarkan.





BANK SYARIAH dan Ciri-cirinya

BANK SYARIAH


Pendahuluan

Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usaha. Dewasa ini banyak terdapat literatur yang memberikan pengertian atau definisi bank antara lain:
Kashmir (2002:11) mendefinisikan bank sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkandana tsb ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya. 
Berdasarkan UU No.7 tahun 1992 tentang perbankan menyebutkan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak.
Sedangkan pengertian bank berdasarkan UU No.10 tahun 1998 menyempurnakan UU No. 7 tahun 1992 adalah bank sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lain dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak.

Di Indonesia terdapat dua jenis perbankan, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Bank konvensional adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan pada pembayaran bunga sedangkan bank sayariah menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip bagi hasil.


Perkembangan Bank Syariah

Perkembangan bank syariah yang cukup pesat hingga saat ini dimulai pada tahun 1992. Dengan dikeluarkannya UU No.10 tahun 1998 yang memungkinkan perbankan menjalankan sistem dual system banking, bank-bank konvensional yang mendominasi pasar mulai tertarikdan membuka unit syariah. Kalangan praktisi perbankan semakin gencar melakukan upaya sosialisasi dan edukasi dengan sasaran untuk mengubah paradigma berfikir masyarakat yang telah lama terbiasa dengan bank konvensional. Berbagai upaya promosi juga dilakukan oleh pelaku perbankan syariah guna memperkenalkan sistem perbankan syariah.

Sistem operasional pada bank syariah menerapkan sistem free rate interest banking, sistem ini diperkenalkan untuk pertama kali oleh umat Islam, dengan kata lain adalah sistem perbankan yang tata cara operasionalnya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Dalam sistem operasional ini pada hakikatnya nasabah yang mengadakan transaksi dengan bank yang bersangkutan sama dengan melakukan investasi dengan imbalan bagi hasil yang sesuai dengan keadaan yang benar-benar terjadi dan nominal simpanan nasabah, tetapi simpanan tsb akan diperlakukan sebagai modal dan nasabah yang bersangkutan sebagai shareholder akan mendapat bagian keuntungan sebesar prosentase yang telah disepakati bersama. Demikian pula perlakuan yang sama akan diterapkan pada kredit yang diberikan oleh bank.

Bank Indonesia selaku otoritas perbankan saat ini menilai bahwa sebagian dari sistem perbankan nasional, bank-bank syariah perlu diatur dan diawasi agar kepentingan masyarakat pengguna jasa perbankan tsb dapat terlindungi dengan baik, sehingga terjadi persaingan sehat antar bank dan agar bank-bank syariah dapat berkembang dengan sehat serta berperan optimal dalam pembangunan nasional.


Definisi Bank Syariah 

Bank syariah adalah bank umum sebagaimana dimaksud dalam UU No.7 tahun 1992 tentang perbankan yang saat ini telah diubah dengan UU No.10 tahun 1998 yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah (Siamat dahlan, 2005:413). dari definisi di atas dapat diketahui bahwa bank syariah merupakan bank yang tidak menggunakan riba atau bunga dalam menjalankan kegiatan usahanya dan sebagai ganti digunakan instrumen bagi hasil.

Dalam struktur organisasinya bank syariah harus memiliki Dewan Pengawas Syariah yang tugasnya melakukan pengawasan atas operasional bank dan produk-produknya dalam menghimpun dan menyalurkan dana kepada masyarakat sesuai dengan prinsip syariah. Dewan Pengawas Syariah ini harus membuat pernyataan secara berkala bahwa yang diawasinya telah berjalan sesuai dengan ketentuan syariah. laporan ini dimuat dalam laporan tahunan (annual report) bank yang bersangkutan.  

Bank syariah merupakan lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah atau dengan kata lain bank syariah adalah bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memebrikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (UU No.10 tahun 1992 tentang Perubahan UU No.7 tahun 1992 tentang perbankan). Kegiatan usaha bank syariah antara lain:
  1. Mudharabah, yaitu pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil.
  2. Musyarakah, yaitu pembiayaan berdasarkan prinsip usaha patungan.
  3. Murabahah, yaitu jual beli barang dengan memperoleh keuntungan.
  4. Ijarah, yaitu pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa.

Ciri-ciri Perbankan Syariah

Bank syariah mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan bank konvensional, adapun ciri-ciri bank syariah adalah:
  1. Beban biaya yang disepakati bersama pada waktu akad perjanjian diwujudkan dalam bentuk jumlah nominal, yang besarnya tidak kaku dan dapat dilakukan dengan kebebasan untuk tawar menawar dalam batas wajar. Beban biaya tsb hanya dikenakan sampai batas waktu sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak.
  2. Penggunaan persentase dalam hal kewajiban untuk melakukan pembayaran selalu dihindari karena persentase bersifat melekat pada sisi hutang meskipun batas waktu penjualan berakhir.
  3. Di dalam kontrak-kontrak pembiayaan proyek, bank syariah tidak menerapkan perhitungan berdasarkan keuntungan yang pasti akan ditetapkan di muka, karena pada hakikatnya yang mengetahui tentang ruginya suatu proyek yang dibiayai bank hanyalah Allah semata.
  4. Pengerahan dana masyarakat dalam bentuk deposito tabungan oleh penyimpan dianggap sebagai titipan (Al-Wadiah) sedangkan bagi bank dianggap sebagai titipan yang diamanatkan sebagai penyertaan dana pada proyek-proyek yang dibiayai bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariah sehingga pada penyimpanan tidak dijanjikan imbalan yang pasti.
  5. Dewan pengawas syariah (DPS) bertugas untuk mengawasi operasional bank dari sudut syariahnya. Selain itu manajer dan pimpinan bank syariah harus menguasai dasar-dasar muamalah Islam.
  6. Fungsi kelembagaan bank syariah selain menjembatani antara pihak pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana, juga mempunyai fungsi khusus yaitu fungsi amanah, artinya berkewajiban menjaga dan bertanggung jawab atas keamanan dana yang disimpan dan siap sewaktu-waktu apabila dana diambil pemiliknya.  

Prinsip Sistem Keuangan Syariah

Konsep sistem keuangan syariah diawali dengan pengembangan konsep ekonomi Islam. Pengembangan konsep ekonomi Islam dimulai pada tahun 1970-an dengan membicarakan isu-isu ekonomi makro. Pihak yang terlibat dalam diskusi tersebut adalah para ekonom dan juga para ahli fikih. Mereka yakin bahwa konsep ekonomi Islam harus didukung oleh sistem yang lebih  bersifat praktis yaitu sistem keuangan syariah dengan mencari suatu sistem yang dapat menghindari riba bagi musllim. Usulan yang pertama kali muncul adalah sistem kerja sama untuk membagi laba rugi yang diperoleh dari kegiatan usaha.

Filosofi sistem keuangan syariah "bebas bunga" (larangan riba) tidak hanya melihat interaksi antara faktor produksi dan perilaku ekonomi seperti yang dikenal pada sistem keuangan konvensional. melainkan juga harus menyeimbangkan berbagai unsur etika, moral, sosial, dan dimensi keagamaan untuk meningkatkan pemerataan keadilan menuju masyarakat yang sejahtera secara menyeluruh.

Melalui sistem kerja sama bagi hasil maka akan ada pembagian risiko. Risiko yang timbul dalam aktivitas keuangan tidak hanya ditanggung penerima modal atau pengusaha saja, namun juga akan diterima oleh pemebri modal. Pemberi modal maupun penerima modal harus saling berbagi risiko secara adil dan proporsional sesuai dengan kesepakatan bersama. dalam sistem keuangan syariah, pemberi dana lebih dikenal sebagai investor daripada kreditor, oleh karena itu pemberi modal juga harus menanggung risiko yang biasanya sesuai dengan modal yang ditanamkan. Sebagai investor, pemberi modal tidak hanya memberikan pinjaman saja melalui menerima pengembalian pinjaman dari hasil aktivitas perdagangan, akan tetapi antara investor dan pengusaha secara bersama-sama bertanggung jawab atas kelancaran aktivitas perdagangan untuk mencapai tingkat pengembalian yang optimal.


Prinsip Sistem Keuangan Islam 

Berikut ini adalah prinsip sistem keuangan Islam yang diatur dalam Al-Quran dan As-Sunah:
  1. Pelarangan riba. Riba (dalam bahasa Arab) didefinisikan sebagai "kelebihan" atas sesuatu akibat penjualan ataupun pinjaman. Riba telah dilarang tanpa adanya perbedaan pendapat diantara para ahli fikih.Riba merupakan pelanggaran atas sistem keadilan sosial, persamaan dan hak atas barang. Oleh karena itu sistem riba ini hanya menguntungkan para pemeberi pinjaman/pemilik harta sedangkan pengusaha tidak diperlakukan sama.Padahal "untung" itu diketahui setelah berlalunya waktu dan bukan hasil penetapan di muka.
  2. Pembagian risiko. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari pelarangan riba yang menetapkan hasil bagi pemberi modal di muka. Sedangkan melalui pembagian risiko maka pembagian hasil akan dilakukan di belakang yang besarannya tergantung dari hasil yang diperoleh. Hal ini juga membuat kedua belah pihak akan saling membantu untuk bersama-sama memperoleh laba, selain lebih mencerminkan keadilan.
  3. Tidak menganggap uang sebagai modal potensial. Dalam masyarakat industri dan perdagangan yang sedang berkembang sekarang ini, fungsi uang tidak hanya sebagai alat tukar saja, tetapi juga sebagai komoditas dan sebagai modal potensial. Dalam fungsinya sebagai komoditas, uang dipandang dalam kedudukan yang sama dengan barang yang dijadikan sebagai objek transaksi untuk mendapatkan laba (keuntungan). Sedangkan dalam fungsinya sebagai modal nyata (capital), uang dapat menghasilkan sesuatu (bersifat produktif) baik menghasilkan barang maupun jasa. Oleh sebab itu sistem keuangan Islam memandang uang boleh dianggap sebagai modal kalau digunakan bersamaan dengan sumber daya yang lain untuk memperoleh laba.
  4. larangan melakukan kegiatan spekulatif. Hal ini sama dengan pelarangan untuk transaksi yang memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi, judi dan transaksi yang memiliki risiko yang sangat besar.
  5. Kesucian kontrak. Dikarenakan Islam menilai perjanjian sebagai sesuatu yang tinggi nilainya sehingga seluruh kewajiban dan pengungkapan yang bterkait dengan kontrak harus dilakukan. Hal ini akan mengurangi risiko atas informasi yang asimetri dan timbulnya moral hazard.
  6. Aktivitas usaha harus sesuai syariah. Seluruh kegiatan usaha tsb haruslah merupakan kegiatan yang diperbolehkan menurut syariah. Dengan demikian usaha seperti minuman keras, judi, peternakan babi yang haram juga tidak diperbolehkan.
Jadi prinsip keuangan syariah mengacu pada prinsip rela sama rela (antaraddim minkum), tidak ada pihak yang menzalimi dan dizalimi (la tazhlimuna wa la tuzhlamun), hasil usaha muncul bersama biaya (al kharaj bi al dhaman), dan untung muncul bersama risiko (al ghunmu bi al ghurmi).


Jumat, 27 Februari 2015

Pengertian Auditing dan Perbedaannya dengan Akuntansi

AUDITING



Pengertian Auditing

Berikut ini beberapa pengertian auditing :

  1. Konrath (2002:5) mendefinisikan auditing sebagai suatu proses sistematis untuk secara objektif mendapatkan dan mengevaluasi bukti mengenai asersi tentang kegiatan-kegiatan dan kejadian-kejadian ekonomi untuk meyakinkan tingkat keterkaitan antara asersi tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
  2. Sukrisno Agoes (2004:4) mengartikan auditing sebagai suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen, terhadaplaporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tsb.
Dengan adanya auditing akan memberikan nilai tambah bagi laporan keuangan perusahaan, karena akuntan publik sebagai pihak yang ahli dan independen pada akhir pemeriksaannya akan memberikan pendapat mengenai kewajaran  posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan laporan keuangan.

Dalam proses auditing yang diperiksa adalah laporan keuangan yang telah disusun  oleh manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya. Laporan keuangan yang harus diperiksa terdiri dari:
  • Laporan posisi keuangan  (Statement of Financial Position) adalah suatu laporan yang menggambarkan posisi keuangan suatu perusahaan (beberapa aset, liabilities, dan ekuitas) pada suatu saat tertentu.
  • Laporan laba rugi komprehensif (Statement of Comprehensive Income) adalah suatu laporan yang menggambarkan hasil usaha suatu perusahaan secara keseluruhan (berupa pendapatan, beban, dan laba rugi) untuk suatu periode tertentu.
  • Laporan Perubahan Ekuitas (Changes in Equity) adalah suatu laporan yang menggambarkan perubahan ekuitas (berapa retained earnings awal, laba rugi, pembagian deviden, dan retained akhir akhir) untuk suatu periode tertentu. 
  • Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement) adalah suatu laporan yang menggambarkan arus kas (arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas) selama suatu periode tertentu dan diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi, dan pembelanjaan.
Selain laporan keuangan yang telah disebutkan di atas, yang harus diperiksa juga adalah catatan-catatan pembukuan yang terdiri atas buku harian (buku kas/bank, buku penjualan, buku pembelian, buku serba-serbi), buku besar, sub buku besar (piutang, liabilities, aset tetap, kartu persediaan). bukti-bukti pendukung lain yaitu bukti peneriamaan dan pengeluaran kas/bank, faktur penjualan, jurnal voucher, dll. sedangkan dokumen-dokumen yang perlu diperiksa adalah notulen rapat direksi dan pemegang saham, akta pendirian, kontrak, perjanjian kredit, dll.


Perbedaan Auditing dan Akuntansi

  1. Auditing bersifat Analitis sedangkan akuntansi bersifat konstruktif. Auditing dikatakan bersifat analitis karena akuntan publik memulai pemeriksaannya dari angka dalam laporan keuangan, lalu dicocokkan dengan neraca saldo, buku besar, buku harian, bukti-bukti pembukuan, dan sub buku besar. Lain halnya dengan akuntansi yang bersifat konstruktif karena  disusun mulai dari bukti-bukti pembukuan, buku harian, buku besar dan sub buku besar, neraca saldo sampai menjadi laporan keuangan.
  2. Akuntansi dilakukan oleh pegawai perusahaan (bagian akuntansi) dengan berpedoman pada Standar Akuntansi Keuangan atau ETAP atau IFRS sedangkan auditing dilakukan oleh akuntan publik (khususnya financial audit) dengan berpedoman pada Standar Profesiona Akuntan Publik, Kode Etik Profesi Akuntan Publik, dan Standar Pengendalian Mutu. 

Jenis Audit

Berdasarkan luasnya pemeriksaan, audit dibedakan atas:
  1. Pemeriksaan umum (general audit), adalah pemeriksaan laporan keuangan yang dilakukan oleh KAP independen dengan tujuan untuk bisa memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.
  2. Pemeriksaan khusus (special audit), adalah pemeriksaan terbatas (sesuai dengan permintaan auditee) yang dilakukan oleh KAP yang independen, dan pada akhir pemeriksaannya auditor tidak perlu memberikan pendapat terhadap kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.
Berdasarkan jenis pemeriksaan, audit dibedakan atas:
  1. Management audit (operasional audit), yaitu suatu pemeriksaan terhadap kegiatan operasi perusahaan termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional yang telah ditentukan oleh manajemen, untuk  mengetahui apakah kegiatan operasi tersebut sudah dilakukan secara efektif, efisien, dan ekonomis.
  2. Pemeriksaan ketaatan (Compliance Audit), yaitu pememriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan sudah mentaati peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang berlaku, baik yang ditetapkan oleh pihak intern perusahaan (manajemen, dewan komisaris) maupun pihak eksternal (Pemerintah, Bapepam-LK, Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak, dll).
  3. Pemeriksaan intern (Internal Audit), pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen yang telah ditentukan.
  4. Computer Audit, yaitu pemeriksaan yang dilakukan oleh KAP terhadap perusahaan yang memproses data akuntansinya dengan menggunakan Electronic Data Processing (EDP) System. Ada dua metode yang biasa dilakukan oleh auditor:
  • Audit around the computer, dalam hal ini auditor hanya memeriksa output dan input dari EDP system tanpa melakukan tes terhadap proses dalam EDP.
  • Audit through the computer, dalam hal ini audit melakukan tes proses EDP nya dengan menggunakan Generalized Audit Software, ACL dll.




DAFTAR PUSTAKA



Agoes, Sukirno.2004. Auditing (Pemeriksaan Akuntan oleh Kantor Akuntan Publik).Edisi Ketiga, Jilid 1. Jakarta. Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.





PENYUSUTAN ASET BERWUJUD   Pengertian penyusutan menurut PSAK  Nomor 17 adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan sepanjan...